ORIENTASI AKULTURASI WARGA NEGARA INDONESIA KETURUNAN TIONGHOA YANG TINGGAL DI JAKARTA (BERDASARKAN INTERACTIVE ACCULTURATION MODEL)

Clara Moningka, Steven Wijaya

Abstract


Sebagai warga di Indonesia, keturunan Tionghoa telah mendapatkan perlakuan diskriminatif sejak zaman kolonial. Bentuk diskriminasi berkembang menjadi ketidaksadaran kolektif dan mencapai puncaknya pada kerusuhan Mei 1998 yang berpusat di Jakarta. Penelitian ini ditujukan sebagai landasan pembuatan program intervensi terhadap diskriminasi dengan menggunakan mix methods. Pengukuran orientasi akulturasi menggunakan Interactive Acculturation Scale, focus group discussiondan open ended questionnaire. Sampel penelitian ini adalah keturunan Tionghoa yang berusia 20 – 60 tahun. Hasil penelitian menunjukkan skor 563 untuk orientasi integrationism, skor 471 untuk orientasi separatism, skor 369 untuk individualism, skor 295 untuk assimilationism, dan skor 273 untuk  marginalisation. Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas responden lebih menyetujui untuk berakulturasi dengan orientasi integrationismpada dimensi budaya. Mayoritas sampel setuju untuk melakukan pembauran dengan budaya Indonesia namun tetap mempertahankan budaya asli mereka.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.